Sejak Ibu pergi, segalanya tak lagi sama.
- Noor Adn
- 06 Jul, 2025

Hari-hari berlalu dalam sunyi yang lama.
Kehangatannya selalu menenangkan hati,
Hadirnya membuat segalanya berarti.
Saat ini terasa kehilangan arah dan tujuan,
Seolah hanya menghitung hari, menunggu waktu “kepulangan”.
Terkadang muncul tanya: masih adakah yang “worth it” diperjuangkan?
Semangat pun redup, tak lagi seperti dulu dikenang.
Saat Ibu masih ada, menemani langkah yang rapuh,
Segalanya terasa lebih tenang, lebih utuh.
Saya berharap suatu saat akan ada yang mengisi,
Peran “ibu” yang menemani di tengah guncangnya hati.
Terutama di masa quarter-life crisis yang membingungkan,
Saat segalanya terasa goyah dan mudah dijatuhkan.
Jika Anda masih memiliki orang tua yang lengkap,
Bapak dan Ibu, tempat bersandar saat hidup terasa pengap.
Atau mungkin istri dan anak sebagai pelipur lara dan teman bicara,
Yang setia menemani, dalam tawa maupun luka.
Maka Anda termasuk dari sedikit yang beruntung,
Diberi pelukan hangat yang tak semua orang sanggup tampung.
Meski begitu, kita tetap belajar menerima dan bersyukur,
Mungkin ada ibrah besar yang belum bisa kita ukur,
Tersembunyi di balik ketetapan-Nya,
Yang tak selalu kita pahami artinya.
Kudus, 6 Juli 2025


