Romantisme Keluarga

Romantisme Keluarga

Kita hidup di dunia ini tidak lepas dengan yang namanya keluarga. Kita semua adalah manusia yang dimana dilahirkan oleh sosok yang hebat. Kita tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga terdekat kita. Keluarga merupakan sebuah akademi pertama kali saat kita mengeksplorasi dunia ini. Kita belajar, bermain, serta beradaptasi dari sebuah keluarga. Kita di didik oleh orang tua kita dan menjadi bagian anggota dari keluaga kira. Kita diasuh dan dibesarkan oleh orang tua di dalam keluarga, sehingga kita dapat lebih baik memahami dunia. Dalam berkehidupan keluarga tentunya kita menginginkan sebuah keharmonisan, dimana setiap anggota keluarga dapat hidup berdampingan dengan rasa aman, sentosa, dan bagahia. Kehidupan dalam suatu keluarga merupakan suatu kehidupan yang cukup penting dan krusial bagi seseorang, terlebih lagi bagi seseorang pada masa “golden age” atau pada masa kanak-kanak. Keharmonisan keluarga mutlak diperlukan untuk mewujudkan keluarga yang dapat bahagia serta dapat bertahan hingga nanti. Sebaliknya, dengan ketiadaannya keharomonisan tersebut, komponen-komponen keluarga dapat terancam dan terganggu kehidupan keluarganya. Lebih parah lagi, keluarga yang tidak harmonis akan dapat memecah belah dan membuat kerusakan. Contohnya yaitu apabila terdapat ketidakharmonisan antara suami dan istri, timbul ketidakcocokan antar satu dengan lainya, sehingga berpotensi terjadinya permusuhan dan pertikaian hebat, yang selanjutnya biasanya dapat berakhir pada perceraian jika masalah tersebut tidak segera diatasi. Oleh karena keharmonisan keluarga merupakan suatu komponen yang harus dimiliki dalam keluarga, maka sudah sepantasnya kita sama-sama belajar bagaimana cara membangun atau membuat keluagra kita menjadi harmonis. Beberapa hal diantaranya untuk mengusahakan keluarga kita bisa bahagia adalah dengan selalu bersikap jujur dan terbuka. Selain itu, kita juga harus bijak dalam menghadapi suatu permasalahan, kita tidak boleh bersifat egois dalam memutuskan setiap perkara. Sudah sepantasnya kita bermusyawarah atau berdiskusi dengan keluarga kita. Diskusi tersebut dapat dibawakan dengan pembawaan ringan, agar diskusi tersebut dapat tetap menimbulkan kenyamanan, diskusi juga tidak perlu dilakukan secara berlebihan, cukup dengan orang-orang yang memang berhubungan saja yang kita ajak bicara. Ada sebuah teladan menarik yang dapat kita jadikan referensi dalam konteks keharmonisan dalam keluarga, pada kali ini saya akan coba bawakan mengenai keharmonisan Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam terhadap keluarga beliau, dan memang seharusnya kita umat Islam dituntut untuk mengikuti Sunnah beliau, karena beliau merupakan uswah hasanah (suri tauladan yang baik). Diantara perbuatan yang dicontohkan tersebut adalah perlakuan Nabi terhadap istri-istrinya adalah dengan memanggil dengan sapaan hangat serta baik, serta selalu berusaha untuk tidak menyakiti isti-istri beliau. Tidak hanya pada istrinya, Rasul pun dalam hubungan kepada anggota keluarga lainya juga harmonis, misalnya pada kakeknya, cucu-cucunya, maupun dengan anaknya sendiri. Selain hal tersebut, sangatlah penting bagi kita semua untuk senantiasa memperhatikan dan memperbaiki hubungan kita dengan Allah, yang Maha Penyayang lagi Maha Lembut. Kita memohon kepada Allah agar keluarga kita senanitasa dalam keadaan yang harmonis, serta dijauhkan dari segala bencana dan malapetaka yang dapat mengancam keluarga. Aamiin…

Affiliate Pahala

Affiliate Pahala

Pernah dengar Affiliate Marketing? Mungkin di kalangan internet marketer sudah ngga asing lagi soal ini. Saya pernah dengar kalo orang bisa santai2 tiap bangun tidur gajian setelah strategi affiliate marketingnya berhasil. Entah benar atau salah belum aku cek. Yups, pemasaran secara afiliasi (kerja sama). Konsep affiliate marketing secara singkat yaitu apabila tiap kali kita berhasil menjual sebuah produk kepada orang lain melalui link referral kita, maka kita akan diberi imbalan berupa share profit (bagi untung) yang telah ditentukan oleh kedua pihak sebelumnya. Konsep tadi ngga jauh2 dari hadits ini, yaitu apabila kita berhasil mengajak orang menuju kebaikan, maka kita akan mendapatkan share pahala dari amalan yang dikerjakannya. Bedanya di sini adalah, kita akan mendapatkan pahala full / penuh dari orang yang melakukan amal tersebut. Dan apabila orang yang berhasil kita ajak tadi mengajak orang lain, maka kita akan mendapat share pahala nya juga. Dengan demikian, kita ibaratnya membangun “mesin pahala” yang bekerja terus menerus secara otomatis untuk meng-generate pahala, insya Allah. Hal semacam ini dinamakan dengan pahala jariyah (pahala yang mengalir). Melalui hadits diriwayatkan yang artinya: Barangsipa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapat pahala sebanyak yang didapat oleh yang mengerjakannya. (HR. Muslim) Allah juga berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya. (QS. Fussilat: 8) Oke sekarang kita sudah tau soal konsep ini. Tugas kita sekarang adalah mulai menyebarkan & mengajak kebaikan2. Karena kita belum tahu pasti mana yang akhirnya “cuan”. Bisa saja amalan kebaikan yang kita anggap kecil, menjadi besar saat hisab nanti. Press enter or click to view image in full size https://www.instagram.com/p/CK_FWLshKrE/ Jika ada kesalahan, mohon untuk dikoreksi. Jazakumullah khairan. Semoga bermanfaat…

Dual-side Orientation

Dual-side Orientation

Kita hidup di dunia ini selalu diharapkan pada sebuah pilihan. Entah kita sadari atau tidak, hal tersebut merupakan suatu yang pasti kita temukan dalam berkehidupan. Dalam menjalani sejauh aktivitas, maka kita tak luput dengan yang namanya tujuan. Iyaps, sebuah goals yang kita harapkan dari kita melakukan aktivitas tersebut. Bagi seseorang yang tidak memiliki tujuan, mungkin seseorang tersebut akan merasa bimbang tanpa arah. Sebaliknya, orang yang telah menentukan tujuan di awal perbuatan, maka dia setidaknya tahu apa yang harus dia lakukan. Tujuan bisa juga disebut dengan orientasi. Namun orientasi menurutku lebih mengarah pada tujuan jangka panjang yang belum dapat atau belum nampak hasilnya saat sekarang. Hal ini merupakan pendapat yang bisa benar bisa juga salah. Orientasi seseorang akan sangat memberikan pengaruh dalam ia mengambil sebuah keputusan. Entah itu dalam bidang pekerjaan, agama, maupun style yang di anut. Mulai dari yang terkecil, sampai yang terbesar. Become a memberOrientasi seseorang bisa bernilai baik, bisa juga bernilai buruk. Misalkan dalam keadaan pandemi seperti sekarang ini, ada orang2 yang berpikiran negatif dan juga ada yang berpikiran negatif. Hal ini tergantung berdasarkan referensi kehidupan yang ia dapatkan. Orientasi seorang muslim adalah akhirat. Maka segala sesuatu dan semua amalannya hendaknya di niatkan untuk mencari ridho Allah yang menciptakan nya. Kita semua harus meniatkan segala aktivitas yang kita lakukan hanya beribadah, meraih keridhoan Allah. Kenapa kita harus begitu? Karena Allah sendiri yang mendeklarasikan bahwa tujuan diciptakan nya mansuia adalah tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Wahai engkau yang membaca tulisan ini, janganlah sampai lupa akan hal ini. Tujuanmu di dunia ini hanyalah untuk beribadah. Bagi seseorang yang ber orientasi atau meniatkan semua aktivitas nya untuk beribadah, tentunya telah beruntung sekali, karena dia telah mendapatkan rumus “cuan” nya dalam berkehidupan, karena kehidupan yang hakiki adalah kehidupan yang kekal, yaitu kehidupan akhirat. Bukan kehidupan dunia yang fana dan sangat sangat rapuh ini. :) Jika seseorang beribadah, berarti dia telah menjalankan perintah Rabb nya. Seseorang pantas mendapatkan reward atau ganjaran (pahala) atas apa yang dilakukan nya. Beribadah disini luas sekali makna nya ya, para pembaca… Bekerja adalah ibadah, menuntut ilmu adalah ibadah, membaca Al-Quran adalah ibadah, membantu sesama adalah ibadah, mengingatkan seseorang jika berbuat salah adalah ibadah, bahkan, hubungan halal suami istri pun juga bisa dikatakan sebagai ibadah jika niatnya & amalnya benar. Semoga bermanfaat. Jazaakumullah khairan.

Express Yourself with Writing

Express Yourself with Writing

Menulis adalah suatu aktivitas mulia yang telah dilakukan oleh orang-orang sejak dahulu. Orang-orang bisa terkenal karyanya sampai sekarang ini salah satunya yaitu dengan menulis. Seperti yang kita ketahui misalkan, buku dari ilmuwan muslim Ibnu Sina, yaitu Qanun fi Thibb (Kaidah Kedokteran) yang sampai saat ini masih dijadikan sebagai salah satu rujukan yang utama dalam membuat atau merumuskan sebuah perkara. Buku-buku pengetahuan yang lain juga menunjukkan kepada kita bahwa suatu ilmu pengetahuan dapat diabadikan melalui tulisan. Al-Qur’an (Kalamullah) pun bisa sampai kita salah satunya yaitu dengan melwati sebuah tulisan, yang mana telah dikodifikasikan pada masa kehalifaan sehingga bisa kita rasakan serta pelajari sampai sekarang. Kita juga membutuhkan kitab atau buku yang telah ditulis orang-orang terdahulu untuk mempelajari Sunnah. Kita dapat belajar Islam lebih dalam melalui tulisan-tulisan yang dituliskan para ulama’ kita berdasarkan perilaku Rasul dan sahabat Rasul. Kenapa kok bisa seperti demikian, yaitu belajar dari orang-orang terdahulu yang hidup berdampingan dengan Rasul? Yaitu alasanya adalah karena merekalah yang lebih tahu dan paham tentang keadaan dan kejadian saat itu. Kalau kita ambil sebuah logika, apabila ada sebuah kasus kecelakaan mobil misalkan, maka tim investigasi akan mencari tahu informasi-informasi yang berhubungan dengan cara menanyakan kepada orang-orang yang ada di tempat kejadian. Mengapa demikian? Yaitu karena mereka yang lebih tahu akan kejadian tersebut. Bisa dikarenakan dia melihat dengan mata kepala sendiri, mendengarkan serta mengamati secara detail sebuah kejadian tersebut. Hasil dari investigasi tersebut pun di dokumentasikan salah satunya yaitu dalam bentuk data-data yang berupa tulisan, seperti saksi, kronologi kejadian, serta tempat & waktu kejadian itu berlangsung. Seringkali kita mendengar bahwa orang bisa terkenal namanya melalui sebuah buku, atau paling tidak sebuah tulisan yang telah dipublikasikan pada khalayak umum, seperti koran, majalah, dan tidak lupa pula pada area digital, seperti Medium, Quora, Telegram, serta platform-platform yang lainya. Ada sebuah kejadian yang menurut saya cukup menarik, ketika saya menonton sebuah video dari BukaTalks (semacam acara talkshow versi Bukalapak) yaitu ada seseorang yang menulis buku, namun pada akhirnya dia bisa jalan-jalan ke luar negeri. Beliau adalah Ahmad Fuadi, penulis buku best sellernya “Negeri 5 Menara” yang juga telah di film kan. Bukunya juga menjadi bahan ajar utama suatu mata kuliah di suatu universitas. Hal ini tentunya menjadi sebuah fenomena yang cukup menggembirakan baik dari sisi penulis maupun dari sisi reputasi negara kita Indonesia. Dengan menulis, kita dapat mengekspresikan diri sendiri lebih leluasa, dengan menulis, kita berarti telah membuat legasi (peninggalan) bagi diri kita sendiri. Tulisan akan terus dapat dibaca apabila sudah dipublikasikan. Kita dapat meraih potensi pahala jariyah dari sini, yaitu dengan cara menulis sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, karena kita semua tahu bahwa ketika anak Adam (manusia) telah meninggal, maka akan terputus semua amalnya kecuali tiga perkara. Salah satunya yaitu ilmu yang bermanfaat. Become a memberBagi kaum introvert seperti saya ini, menulis adalah sesuatu hal yang cukup mengasyikkan, karena dengan menulis, rasanya seperti menuangkan semua perasaan yang ada di dalam hati menjadi sebuah tulisan. Msialkan saat merasa sendirian, sedih, galau, atau bahkan marah, menulis adalah salah satu solusi yang terbaik untuk meredakan dan mengontrol emosi yang bergejolak. Pernah beberapa kali kejadian seperti itu, dan akhirnya saya merasa benar-benar membaik suasana hati saya. Hal ini biasa saya lakukan untuk self-healing (pengobatan diri) saat semua orang terasa ngga ada yang peduli. Setidaknya hal itu dapat menjadi anestesi dari rasa sakit yang ku alami. Jadi, menulis adalah seseuatu yang berarti atau bermakna. Kita juga dapat ambil contoh pendekatan dari seorang tokoh yang memproklamasikan dirinya sendri sebagai introvert, yaitu JK Rowling, si pengarang buku serial Harry Potter yang hingga kini telah sukses serta di filmkan. Generasi yang lebih dulu dari saya pasti kebanyakan paham dan tahu alur dari buku & film tersebut. Pasalnya, itu sempat booming dan populer dalam beberapa kurun waktu. Tentunya ada banyak sekali orang yang berhasil meng ekspresikan dirinya melalui menulis, terkhusus pada orang bertipe kepribadian inrovert, yang lebih suka menyendiri, memperhatikan secara detail, menjaga jarak sosial, sebagai metodenya untuk bernafas atau lebih tepatnya recharge energi. Pramoedya Ananta Toer pernah berkata, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Kalau kita pikir-pikir kembali, maka hal yang dikatakan Pramoedya tadi adalah benar, karena dengan menulis kita berarti bekerja untuk sebuah keabadian. Karena semua manusia pasti akan mati, dan manusia yang telah menulis akan terasa abadi. Kenapa demikian? Karena namanya akan selalu disebut-sebut meskipun orangnya telah tiada. Sebut saja beliau ulama’ HAMKA (Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah) yang menulis karya beliau dalam keadaan dirinya dipenjara. Karyanya maasyaaAllah luar biasa sekali. Bahkan pada pengajian yang lalu, ustadz saya sempat menyebut nama beliau karena bukunya yang recommended dan insightful. Saran ku, untuk bisa menulis dengan baik, maka kita harus perbanyak bahan bacaan kita. Bisa itu dari buku, artikel, jurnal, maupun yang lainya. Baik yang versi online, maupun offline. Kini internet sudah ada di genggaman kita dan informasi sangatlah mudah untuk didapatkan dengan beberapa jari. Misalkan kita ingin mengetahui berita, maka kita cukup mencari di Google untuk mendapatkan informasinya. Tentunya kita harus selektif juga terhadap berita-berita hoax dan tidak bertanggung jawab. Pilihlah media yang memiliki reputasi serta validasi yang bagus, agar kita tidak mudah tergiring opini publik yang kadang tidak sesuai dengan realitas kehidupan ini. Intinya adalah perbanyak informasi, perbanyak literasi, buat perpusatakaan sendiri untuk bersama maupun pribadi. Baik itu pustaka digital maupun pustaka konvensional. Hal itu penting, sekali lagi, penting. Sejujurnya, saya seperti sedikit minder karena beberapa orang dan teman dekat saya sudah ada yang memiliki buku sendiri, sedangkan saya belum punya buku. Dari kakak-kakak ku se kandung, sampai teman-teman se umuranku. Bahkan adik perempuan saya, tulisanya ada yang sudah masuk ke dalam buku. Tentunya itu menjadi sebuah semangat bagi kita semua serta saya sendiri terutama yang mana bisa kita ambil untuk bisa memproduksi karya-karya yang maksimal. Menyebar kebaikan yang lebih banyak serta menebar kebermanfaatan kepada manusia lebih luas. Hal ini didukung dan dibenarkan, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lainya. Allah juga memerintahkan kita untuk berlomba-lomba dalam hal kebaikan. Yang mana jika kita korelasikan, menulis adalah sebuah ibadah, dan ibadah akan mendapatkan pahala. Apalagi jika telah menjadi sebuah rantai yang tak terputus yang tersebar di masyarakat, tentunya ini menjadi peluang investasi amal kita nanti saat kita telah tiada. Semoga kita dapat selalu beribadah, menghasilkan karya-karya yang bermanfaat yang mana kita dapat menuai hasil manis kerja kita di akhirat. Aamiin, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. Jazaakumullah khairan wa baarakallahu fiikum.

Globalisasi & Digitalisasi Terhadap Perilaku Kultural Organisasi

Globalisasi & Digitalisasi Terhadap Perilaku Kultural Organisasi

Perkembangan zaman memanglah suatu hal yang akan terus terjadi. Disadari atau tidak, kita pasti dituntut untuk sesesgera mungkin untuk dapat beradaptasi dengannya. Globalisasi adalah proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya (Wikipedia). Globalisasi dapat didefinisikan sebagai proses di mana berbagai peristiwa, keputusan, dan aktivitas di suatu wilayah tertentu di dunia dapat saling berdampak pada berbagai individu maupun komunitas di sisi lain dunia. Globalisasi memberikan dampak yang menyeluruh di muka bumi ini, tak terkecuali pada ruang lingkup organisasi. Era digitalisasi berarti kita hidup berdampingan dengan dunia digital dalam skala internasional. Digital sangatlah akrab kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari media sosial tempat kita berbagi rasa, berbagi informasi, serta berbagi pengalaman kehidupan. Kita berkirim pesan melalui WhatsApp juga termasuk dalam ranah teknologi digital, karena hal tersebut menggunakan sarana jaringan digital untuk pesan bisa sampai ke tangan penerima dengan baik. Pesan yang disampaikan pun berupa pesan digital. Dunia digital merupakan dunia yang terbentuk dari angka biner, yaitu angka 0 (nol) dan 1 (satu). Dari kedua angka tersebut kita dapat kombinasikan menjadi berbagai macam bentuk dan jenis informasi. Mulai dari pesan teks, audio, video, maupun sebuah file besar. Hal teresbut merupakan salah satu produk yang dihasilkan pada ranah digital. Data digital tersebut disimpan di tempat-tempat penyimpanan baik pada server yang dijalankan secara remote maupun media penyimpanan lokal. Globalisasi sudah menjadi sesuatu yang umum, yang mana hal tersebut sudah menjadi seperti gaya hidup dan terkadang tidak dapat terlepas dari kehidupan. Dalam organisasi, globalisasi bisa menjadi sesuatu yang positif namun juga bisa menjadi negatif. Bisa menjadi sesuatu yang menguntungkan, namun juga bisa menjadi suatu ancaman. Ini bergantung pada bagaimana cara organisasi mensikapi hal tersebut, apakah organisasi dapat mengikuti arus globalisasi ataukah justru tidak, atau bahkan mungkin secraa tegas menolak. Dengan adanya globlisasi dan digitalisasi, kita dapat memanfaatkan hal tersebut untuk saling terhubung antara satu dengan yang lain secara online atau daring. Tren konfrensi digital dengan menggunakan platform video conference seperti ZOOM, Google Meet atau Jitsi Meet sudah menjadi sesuatu yang mungkin essensial dalam organisasi, terutama pada saat organisasi tersebut membutuhkan adanya rapat secara rutin. Manajemen dokumen juga sekarang jauh lebih terarah dan terstruktur. Perubahan pada manajemen perusahaan dan organisasi tersebut mendorong untuk sesegera mungkin untuk “go digital” untuk memenuhi serta mengikuti perkembangan zaman agar tidak tertinggal. Adanya cloud suite seperti Google Suite, Microsoft 365 Suite, atau Dropbox Paper juga sangat mendukung dalam organisasi. Tools atau alat tersebut memungkinkan untuk membuat dokumen secara online, realtime, dan dapat di bagikan, serta mudah untuk berkolaborasi dengan team secara langsung. Artinya, kita dapat bekerja sama dalam tim untuk menyelesaikan atau membahas sebuah dokumen dalam waktu yang sama. Kolaborasi juga dapat dilakukan secara lebih mudah, efektif, serta efisien. Hal ini didukung oleh adanya platform-platform web-based untuk berkolaborasi. Platform tersebut diantaranya yaitu adalah Trello dan Asana, untuk manajemen organisasi/perusahaan, Miro, whiteboard sebagai sarana menyalurkan ide serta presentasi, dan juga Figma, yaitu tempat untuk membuat serta berdiskusi saat akan membuat sebuah aplikasi atau website. Tentunya masih ada banyak platform digital yang bermanfaat untuk mendukung dan meningkatkan kinerja suatu organisasi. Hal ini tentunya akan berdampak pada budaya serta perilaku dalam suatu organisasi, dimana perilaku tersebut berubah seiring dengan implementasi atau penerapan teknologi hasil dari globalisasi dalam organisasi teresebut. Terjadi perubahan kultur atau budaya di dalam organisasi. Misalkan kalau zaman dahulu sebelum globalisasi terutama di bidang komunikasi ada, untuk menyebarkan undangan untunk acara rapat harus mendatangi satu per satu. Sekarang tidak perlu demikian, cukup kirim undangan lewat e-mail (surel) atau kirim lewat WhatsApp. Untuk berkirim dana berbeda mata uang dan berbeda negara sekarang dapat menggunakan platform finansial seperti PayPal, dan Payooner. Untuk versi lokal di Indoneisa dapat menggunakan aplikasi e-wallet seperti DANA, atau GoPay (dalam aplikasi Gojek). Hal tersebut merupakan suatu contoh efek positif dari implementasi globalisasi dalam suatu organisasi. Namun, untuk kita sebagai muslim, harus secara cermat memilih serta menyeleksi apakah platform maupun aplikasi tersebut menyelisihi terhadap syariat Islam ataupun tidak. Jika tidak ada yang kontradiksi, silahkan gunakan. Jika ada yang menyelisihi, segera tinggalkan. Salah satu contoh yang menyelisihi syariat yaitu mengenai pinjol (pinjaman online), dimana disitu diberlakukan bunga, yang mana kita telah ketahui bersama, bahwa riba itu diharamkan oleh Allah. Riba berdampak buruk pada kehidupan manusia di dunia maupun pada kehidupan selanjutnya. Dengan adanya globalisasi kita dapat saling berinteraksi dan berkomunikasi dengan mengabaikan dimensi jarak serta situasi. Misalnya saat akan diadakan sebuah wisuda di masa pandemi, dapat diatasi dengan cara berpikir kreatif, yaitu dengan mentransformasikan & mengalihkan wisuda tersebut dengan model wisuda online atau wisuda daring. Tentunya hal ini terdapat sisi positif dan juga negatif. Namun hal tersebut setidaknya hal tersebut menjadi solusi alternatif di kala pandemi. Globalisasi dapat menjadi sebuah keuntungan bagi organisasi, terutama untuk perusahaan. Misalnya, manajemen dalam organisasi dapat dialihkan secara online tanpa harus tatap muka. Sorang karyawan diberi tugas untuk mengerjakan sesuatu secara online dan di manajeri secara otomatis melalui platform digital. Karwayan tersebut dapat saling berinteraksi dalam suatu platorm digital dimana platform tersebut bertugas untuk mengatur sebagian bahkan keseluruhan proses dalam organisasi, meskipun diperlukan alokasi dana yang cukup memakan biaya jika membuat platform tersebut dari nol (from stratch) beserta beban pemeliharaan (maintenance). Dalam dunia kerja, hal ini sering disebut dengan istilah “remote work” atau kerja remote. Hal ini tentunya sangat menguntungkan terutama saat pandemi seperti ini. Namun, disisi lain terdapat hal-hal negatif yang tidak bisa lepas, yaitu ancaman keamanan data dimana semua data pada organisasi tersebut disimpan dalam penyimpanan awan (cloud storage). Bila keamanan tidak dijaga dengan baik, maka berpotensi resiko kehilangan aset berharga. Contohnya yaitu dengan menggunakan virus Ransomware yang mengunci serta menyandera data / aset digital organisasi yang penting dan krusial, dengan meminta tebusan sejumlah uang sebagai tebusan untuk membuka kunci file. Hal tersebut juga merubah perilaku dalam organisasi untuk lebih mengedepankan sisi penjagaan keamanan. Ragam serangan digital lainya juga masih sangat banyak jumlahnya. Hal semacam ini tak sepenuhnya sebuah permasalahan, namun hal ini dapat dianggap sebagai peluang jika dilihat di lain sudut pandang, yaitu dengan adanya ancaman seperti ini, maka organisasi akan lebih bersiap-siap terhadap ancaman yang datang menanti, yang artinya perilaku dalam organisasi tersebut berubah menjadi kebal atau memperkuat diri dan memperkuat pertahanan. Setelah mengetahui sedikit banyak mengenai globalisasi terhadap perilaku organisasi, penulis berharap agar dapat menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada dengan semaksimal mungkin dengan tetap berpegang pada syariat Islam. Dengan adanya globalisasi, sudah sepantasnya kita dapat meningkatkan produktivitas, kinerja, serta budaya positif dalam sebuah organisasi. Jangan sampai kita tertinggal, dan jangan sampai kita menyalahkangunakan fasilitas yang kita dapatkan. Karena semua yang kita lakukan akan dipertanggung jawabkan. Kita harus mengejar ketertingalan kita. Kita harus bangkit dan ambil tindakan nyata. Kita harus dapat bersaing dengan negara-negara maju. Mulai dari diri kita sendiri, yang berarti kita memulai sebuah perubahan besar dalam dunia. “Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” (HR. Muslim no. 2664) Baarakallahu fiikum. Semoga bermanfaat. Semoga Allah Azza Wa Jalla membantu, memberikan yang terbaik, serta meridhoi semua tekad/niatan baik kita. Aamiin…

言葉 — Words

言葉 — Words

Word (言葉 /kotoba/) is something complex that’s made or intended to understand someone for something. Words can take many forms. It can be in the form of a noun, adjective, verb, adverb, or anything else. Words when coupled with siblings can change into a sentence. The sentences that are arranged can be understood and digested by the mind. We can do an experiment in terms of composing words. We can also determine a person’s character by looking at the behavior and the words that come out of his mouth, even though this technique is not totally absolute. We can influence someone by using words. Because sometimes, the word can contain a meaning that cannot be reflected in the life of the world. Words are quite urgent & have a quite crucial role in terms of media. The choice of words or what we call “diction” is can be customized or adjusted according to and according to the creator’s heart. However, if the word is misused (especially in media publications), the whole world feels the same negative impact. Become a memberThe word also is very important in the digital world. It because most & most computers, be it server computers, or computers that we currently hold in our hands. The word is often used as a syntax/command as an instruction to execute a command. Besides that, it is also used as an identity to represent a group of other codes. The word itself consists of 4 letters, which actually have a deep and memorable meaning. We can all interpret it however we want. Some serve as “keywords”, by which it can remind a person of both good and bad memories of his life. Whether it’s when he gets hundreds of pieces of precious metal, when he becomes king or queen on his wedding day, or when he loses someone who means something in his life. Sometimes words seem to have no meaning that sticks in the chest. It was as if nonsense was brought up to just say the word. I don’t really mean it, but sometimes I may get worried because I’m worried that those words will become less valuable, even a source of disaster. The word is not something abstract, but that does not mean it cannot be sensed. The resulting impact also varies according to the level/index of one’s understanding of it. But I’ve never been afraid of a word. A word contains happiness, serenity. As if the world was nothing. Everything I want is there. Yes, you are right. It is heaven, a place of death for His servants who believe, provided by Allah Azza Wa Jalla. Hopefully, we can gather together again there. See you …

Lecture Activities During Pandemic

Lecture Activities During Pandemic

Today, the world is sick. We know that the world has a pandemic status. The world is attacked by a small, invisible creature that haunts the world. Maybe some of us are scared, some have even been badly affected. The government has started to enforce its PSBB (a term of WFH in Indonesia) policy. All activities are transferred to the online system. Lectures that should have been conducted on campus have now changed the system to E-learning. Not only on campus, junior high, and high school levels too. My nephew who is still in early childhood is like that. Some may respond to this as a threat, something terrifying, and some may even view this as an opportunity for development and a means of maturity. The piling up of assignments made students have a lot of tasks, especially since almost all lecturers gave all assignments. And even worse, if the lecturers don’t want to know what the students are experiencing. Sometimes I personally as a student, feel overwhelmed by this, because at home it is not only lectures that I think about, but many things must be done and completed such as helping parents and taking care of the house. Sometimes parents also think that they keep on playing cellphones, even though they are in college. However, if we take the positive side, we can learn a lot from this. One of them is about self-learning and personality development. One of them, I am happy to be able to share information on my Instagram account @nooradn_ even though I am still learning. If I can tell, I am a part-time freelancer and have an introverted personality (MBTI: INTJ). Of course, when the government announced this I didn’t panic too much to respond because I was used to the online system. I support this because I am used to it, and maybe it is more comfortable to study alone at home, it seems. I also enjoy taking online seminars and classes. There are lots of seminars that I have attended, both via Whatsapp, Zoom, Instagram Live, and YouTube Live. I feel very grateful to be able to follow all of that. Of course, dividing time sometimes becomes a challenge in itself. But, It may be difficult, but it is not impossible. Sometimes I forget the time, even though I’ve already planned in such a way. Between college assignments, homework, freelance work, and personality development, when to attend seminars, when to watch the digital courses, and so on. Finally, let us maintain the enthusiasm for learning, and don’t forget to pray that all of us will always be given health and sufficiency, and hopefully, the coronavirus can be removed from the face of this earth, and ask that conditions become conducive again. I hope, this may be useful. Thank you.

The First Wealth

The First Wealth

We often think of wealth as material, for example, money, gold, stock assets, etc. That is not the case. But I think, wealth is not only a matter of lined up nominal numbers, but wealth is the result of human representation itself. I’m inspired by a quote: Kekayaan pertama adalah soal cara berpikir (William Tanuwijaya). We take an example, imagine there is a person with an income of 30 million / month, but during a pandemic like today, his income decreased to 10 million / month. Then he became sad and felt that he was always lacking. He has to set aside 5 million for car installments, 3 million for bad debt repayments, which is consumptive debt, and the remaining 2 million to live with his family for one month. This person feels that his life is depressed, and feels that he is always lacking. It is not uncommon to commit illegal acts, namely stealing people’s property. While on the other hand, there are people whose income is just barely enough, if it is calculated that it can only be for him and his family, they can still be grateful, and can even give alms every day. He always had enough and never complained. He always tries to improve the economic level and financial level of his family. To be able to do more good, have a bigger impact, by helping those around and in need. Hopefully, we will always be given the blessing of sustenance by Allah subhaanahuwata’ala, as well as be given awareness, convenience, abilities, and opportunities to help each other. Aamiin. I hope, this may be useful. Thank you.